OSLO, 19 Januari (Xinhua) – Sauna, yang pernah dianggap sebagai ritual kesehatan tradisional bagi orang paruh baya dan lanjut usia, kini mendapatkan popularitas yang belum pernah terjadi sebelumnya di kalangan anak muda Eropa. Memadukan warisan Nordik dengan tuntutan gaya hidup modern, praktik kuno ini telah berkembang menjadi tren sosial baru, menawarkan ruang berbiaya rendah dan bebas alkohol untuk relaksasi, koneksi, dan bahkan kreativitas, membentuk kembali persepsi sauna dalam budaya kontemporer.
Kebangkitan budaya sauna di kalangan generasi muda berakar pada pergeseran nilai gaya hidup. Bosan dengan bar yang bising dan interaksi sosial yang dangkal, kaum muda berusia 20 hingga 35 tahun mencari tempat yang damai namun menarik untuk bersantai dan membangun hubungan yang tulus. “Sauna bukan lagi sekadar membersihkan tubuh; ini merupakan kebutuhan untuk bersosialisasi dan menghadapi musim dingin yang panjang dan dingin di Eropa Utara,” kata Anna Larsen, operator sauna di Oslo, Norwegia, melalui akun media sosialnya.
Negara-negara Nordik, tempat lahirnya budaya sauna, telah memimpin inovasi pengalaman sauna untuk melayani kaum muda. Di Finlandia, yang memasukkan sauna ke dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada tahun 2020, para peminat muda telah mengembangkan bentuk-bentuk kreatif seperti "sauna tenda", "sauna bianglala", dan bahkan "perahu sauna" yang berlayar di danau. “Kami ingin membuktikan bahwa sauna tidak hanya dimiliki oleh rumah kayu milik kakek-kakek—tetapi juga bisa menjadi tempat yang sejuk dan serbaguna,” kata Jussi Manninen, seorang pecinta sauna di Helsinki.
Farris Bad, sebuah kompleks sauna berskala besar yang berjarak 1,5 jam berkendara dari pusat kota Oslo, telah menjadi landmark bagi para pengunjung sauna muda. Sauna gantung di atas air menawarkan pengalaman sensorik yang unik: setelah berkeringat karena panas, pengunjung dapat langsung terjun ke laut yang sejuk, menciptakan perubahan suhu drastis yang menstimulasi fisik dan menyegarkan mental. “Peralihan dari panas ekstrem ke dingin ini seperti baptisan rohani,” jelas Lars Eriksson, manajer pengembangan Farris Bad.
Tren ini telah menyebar ke luar Eropa Utara dan ke wilayah lain di benua ini. Di Inggris, jumlah sauna umum telah melonjak dari 45 pada tahun 2023 menjadi 147 pada tahun 2025, didorong oleh kaum muda perkotaan. Mereka telah mengintegrasikan sauna dengan pesta musik, pameran seni, dan kegiatan lainnya, dan mencapnya sebagai "mode yang sehat". “Kaum muda bosan dengan kekacauan di bar; mereka membutuhkan ruang yang menghadirkan relaksasi dan kedamaian,” kata Clark, operator sauna nirlaba di Inggris.
Sauna juga menjadi pusat kreativitas. Sauna Sosial Peckham di London Selatan telah menjadi tempat berkumpulnya para pencipta muda, tempat orang asing lebih mudah terbuka dan berbagi ide. Di Berlin, Jerman, sebuah startup bernama "BaoDian Lab" secara rutin mengadakan "sesi curah pendapat sauna". “Suhu tinggi membuat orang lengah, sehingga kreativitas mengalir dengan bebas,” kata Lucas Berg, pendiri perusahaan. Bahkan praktik sauna tradisional Jerman "Aufguss"—melambaikan handuk untuk menyebarkan uap—telah berkembang menjadi pertunjukan teater kecil-kecilan dengan musik dan pencahayaan.
Namun, popularitas sauna sebagai tren sosial telah menimbulkan kekhawatiran mengenai penyederhanaan budaya. Dengan maraknya media sosial, beberapa sauna pop-up menarik pelanggan terutama untuk mengambil foto, sehingga mengurangi praktik tersebut menjadi "check-in yang terkenal di internet". Para pelindung warisan budaya Finlandia telah memperingatkan bahwa kaum muda harus diajari filosofi "sauna lambat" daripada sekadar keterampilan check-in, untuk melestarikan esensi spiritual dari budaya tradisional ini.
Orang dalam industri memperkirakan bahwa “gelombang sauna muda” akan terus menyebar di Eropa, mendorong inovasi dalam desain, layanan, dan model bisnis sauna. Ketika generasi muda memberikan semangat baru ke dalam tradisi kuno ini, sauna siap menjadi fenomena sosial yang lebih inklusif dan beragam di seluruh benua.